Saturday, October 19, 2019

Apa yang Seharusnya Dirasakan Setelah Spa?

Saya bukan orang yang suka “memanjakan” badan lewat pijat atau spa. Paling yang pernah saya lakukan adalah minta dikerokin Mama kalo berasa masuk angin, itu juga tiap dikerokin selalu uget-uget sampe suka ditabok punggungnya karena nggak bisa diem. Abis dikerokin, saya hampir selalu bisa merasakan kalau badan menjadi lebih segar dan entah kenapa yang awalnya berasa mau sakit, nggak berasa lagi. Oleh karena ini juga di dua perjalanan terakhir saya yang jauh ke Chile dan Amerika Serikat, saya menyempatkan untuk minta dikerokin sama Mama biar badannya lebih enak.

Kalo mendengar kata "spa", yang ada dipikiran saya adalah sebuah kemewahan. Beda dengan pijat atau urut yang terdengar lebih merakyat. Oleh karena itu seumur hidup baru 4 kali ngerasain spa dan itu semua gratisan. Nggak ikhlas rasanya ngeluarin uang untuk spa atau pijat ketika dikerokin Mama masih gratis :p

Dalam post ini saya mau menceritakan keempat pengalaman spa karena setelah spa selalu bingung apa yang seharusnya saya rasakan.

Spa 1: Four Seasons Hotel Jakarta
(full body, 45 menit)

Ketika staycation di Four Seasons Jakarta di tahun 2017, ternyata paket yang saya beli termasuk full body massage selama 45 menit untuk 2 orang. Berhubung waktu itu saya nginep sendiri, bisa digabung waktunya jadi 90 menit. Namun sayang karena lupa reservasi jadi slot waktunya habis.

Jujur waktu itu excited dan penasaran juga dengan yang spa ini karena baru pertama kali. Ketika datang ke lobby spa-nya, diarahkan ke ruangan oleh masseuse-nya. Saya diberikan bungkusan berisi beberapa barang dan diminta ganti baju, terus dengan begonya saya nanya “ini saya nggak pakai apa-apa nanti pas dipijat?” Masseuse-nya menjelaskan kalo di dalam bungkusan terdapat disposable underwear yang bisa dipake, jadi nggak telanjang bulet.

Spa Room

Kelar melepaskan pakaian, saya keluar dan diminta duduk dan merendam kaki ke baskom berisi air hangat dan campuran garam laut, kemudian masseuse-nya mulai memijat kaki. Setelah mungkin sekitar 5-10 menit, saya diminta naik ke kasur (atau papan?) pijat dan diminta tengkurap. Enak banget mijetnya sampe saya sempet ketiduran dan dibangunin ketika massage-nya selesai.

Saturday, October 12, 2019

Pengalaman Mengurus Visa Amerika Serikat

Dalam rangka liburan ke Amerika Serikat, saya harus mengurus visanya yang mahal dan punya momok kuat atas kesulitannya. Padahal statistiknya bilang sekitar 90% warga Indonesia diterima pengajuan visa Amerika-nya. Segitu bikin parnonya tapi.

Brooklyn Bridge, New York

Berikut adalah cerita saya mengajukan aplikasi visa Amerika Serikat untuk keperluan liburan.

Pengisian Formulir DS-160
Langkah pertama yang saya lakukan kemarin adalah mengisi form DS-160 di halaman berikut https://ceac.state.gov/genniv/default.aspx.

Berikut adalah halaman depan web untuk mengisi form DS-160. Di sebelah kanan ada pilihan untuk memulai mengisi formulir dan melanjutkan pengisian formulir. Berhubung pengisiannya panjang dan entah kenapa waktu itu saya sempat time out formulirnya, jadi bersyukur ada fitur melanjutkan pengisian formulir supaya nggak harus ngulang dari awal.


Begitu memulai mengisi formulir, akan diberikan nomor registrasi yang sebaiknya disimpan karena akan dibutuhkan jika mau melanjutkan pengisian formulir dan mau melakukan pemilihan jadwal interview.


Waktu saya ngisi formulir, setiap halaman saya screenshot biar bisa di-share di sini. Namun sayangnya saya cari-cari tapi tidak bisa menemukannya. Barusan mau coba isi formulir ulang tapi males banget karena panjang. Ini saya kasih hint aja apa yang ditanya karena bener-bener lengkap dari data personal, keluarga, tujuan ke Amerika Serikat, dan sebagainya. Pertanyaannya emang terlihat banyak, tapi sama aja dengan visa Australia atau Schengen namun lebih detail.


Monday, September 23, 2019

A Perfectly Balanced Trip: First Class and Back to South America

Hari Rabu kemarin saya baru saja tiba di Indonesia setelah melakukan perjalanan selama 13 hari. Perjalanan tersebut bisa dikatakan perjalanan yang paling mendekati sempurna versi saya. Apa kriteria perjalanan sempurna? Sebagai orang yang suka liburan, sebuah perjalanan harus mengunjungi tempat baru dan sebagai orang yang suka transportasi terutama pesawat, sebuah perjalanan harus memenuhi setidaknya salah satu dari: naik maskapai baru, naik jenis pesawat baru, naik premium class (business atau first class). Nah, perjalanan kemarin memenuhi keduanya:
  • Saya mengunjungi tiga negara baru: Amerika Serikat, Ekuador, dan Kolombia
  • Saya naik business class, bahkan first class!
Quito, Ecuador

Di awal saya bilang kalo perjalanan ini “mendekati” sempurna. Sedikit kekurangannya adalah perjalanan yang terlalu singkat (yes I know, udah 13 hari padahal, tapi tetep aja kurang). Karena terlalu singkat ini destinasi yang saya kunjungi di masing-masing negara belum maksimal, terutama Kolombia. Saya pengen banget ke Cartagena, tapi nggak keburu jadi hanya mengunjungi Bogota. Ecuador juga ternyata banyak banget tempat yang oke. Well, there will always be next time. Aamiin!

Cathay Pacific First Class

Hadiah Tahun Baru dari Cathay Pacific
Pada pagi hari tanggal 1 Januari 2019, saya bangun tidur sekitar jam 6 waktu Malaysia. Kala itu saya sedang menumpang menginap di apartment teman yang sedang bekerja di sana. Seperti biasa setelah bangun tidur handphone-lah yang saya cari. Ketika membuka website yang rutin saya buka setiap harinya, jantung langsung deg-degan karena ada info tiket pesawat Cathay Pacific first class dari Vietnam ke Vancouver pulang-pergi seharga USD 1,000!!! Beberapa keinginan saya tercapai dari topik tersebut: mengunjungi Vancouver (untuk ke Alberta) dan naik first class Cathay Pacific.

Saturday, August 3, 2019

Pengalaman Terbang dengan Thai Airways

Setelah beberapa kali naik Thai Airways antara Jakarta dan Bangkok, saya mau melakukan review penerbangan tersebut di kelas ekonomi. Semoga bisa komprehensif dan akurat karena udah ada lebih dari 2 data point (eaa scientific banget).

Boeing 787-8 at Jakarta Airport CGK

Check-in
Di Jakarta, counter check-in Thai Airways terletak di pier B. Dari pengalaman saya ini counter selalu rame walaupun udah dateng pas baru buka yakni 3 jam sebelum berangkat. Sehingga jangan lupa untuk online check-in ya karena antriannya selalu lebih pendek. Dengan online check-in kalian juga bisa pilih kursi. Sementara itu di Bangkok terletak di pier H dan J. Berhubung ini hub-nya Thai Airways, jadi counter-nya banyak dan proses check-in lebih cepat.

Check-in counter di Jakarta

Penumpang kelas ekonomi mendapatkan jatah bagasi sebanyak 20kg – 30kg, tergantung jenis tiket yang dibeli. Kalau tiketnya promo hanya dapat 20kg, sementara kalau tiket normal dapat 30kg. Sehingga harus diperhatikan ya sebelum packing berapa banyak bagasi yang didapatkan.

Boarding dan Disembark Pesawat
Ini harus saya tulis terpisah karena salah satu aspek kekurangan minor Thai Airways. Di Jakarta, boarding biasanya di gate 5. Lumayan jauh dari imigrasi, jadi usahain waktunya cukup untuk berjalan ke gate. Selayaknya maskapai full service lainnya, proses boarding dan disembark dari pesawat menggunakan garbarata (aerobridge) untuk kenyamanan penumpang.

Nah namun di Bangkok boarding dan disembark SELALU di remote area. Landing jam 11 malem kan capek kalo mesti naik bis lagi, mana airport-nya gede banget jadi suka jauh perjalanan dengan bisnya. Berasa naik bis dari Bangkok ke Pattaya.

Kalo kata temen yang punya kenalan orang Thai Airways, malem hari suka nggak dapet gate karena banyak flight long haul ke Eropa dan Australia yang lebih butuh aerobridge. Oke dimengerti, lah tapi saya 2x boarding jam 7 pagi juga tetep aja dikasihnya remote area padahal gate ada yang kosong.



Sunday, July 28, 2019

Mendadak Chile: Tiket Pesawat dan Dramanya

Nggak tahan dengan godaan tiket PP ke Eropa Rp4jutaan, akhirnya saya beli tiket PP dari Jakarta ke Paris di bulan November. Rencananya mau ke beberapa negara Eropa yang belum saya kunjungi kayak Portugal, Andorra, Monaco, Malta, San Marino, dan Luxembourg. Iya, saya jenis orang yang maruk kalo liburan maunya langsung ke banyak destinasi. Sayang waktu itu Traveloka belum punya fitur multi-city (tapi sekarang udah!) jadi saya belinya tiket PP ke Paris. Ketika mau menyusun rencana pindah kota di Eropa, saya lihat kok harganya mahal banget. Sebelumnya saya suka cek tiket dari Paris ke Porto naik Ryanair harganya bisa Rp200ribuan, tapi kok ini di tanggal saya Rp2,5 juta?! Nggak cuma rute tersebut, semua rute yang saya butuhkan harganya naik dari kisaran Rp200ribu – Rp800ribu ke di atas Rp1,2 juta semua! Setelah diselidiki, ternyata tanggal liburan saya barengan dengan Easter Break di Eropa jadi demand travel di sana lagi tinggi.

Jadinya ke Chile buat liatin beginian. Tidak menyesal.

Saya udah kurangi negara yang mau dikunjungi supaya nggak banyak pindah naik pesawat, tapi kok tetep Rp5jutaan tiket pesawatnya. Mana naiknya low cost carrier semua. Akhirnya saya iseng cek-cek tiket ke benua lain yang pengen saya kunjungi tapi tanpa visa karena waktu itu udah bulan Februari: Colombia, Chile, dan Kenya. Tiket ke Colombia sekitar Rp11 juta, Chile dan Kenya sekitar Rp10 juta. Dari tiga itu paling pengen ke Chile dan cocok banget karena tiketnya naik Lufthansa yang menggunakan 747-8i dari Frankfurt ke Buenos Aires (sebelum lanjut dengan LATAM ke Santiago). Pengen banget naik 747-8i! Udah gitu pulangnya bisa naik 777-300ER-nya Swiss Air Lines rute Sao Paulo – Zurich! #AvGeek-ing

Jadinya cuma lewat doang di Paris

Namun waktu itu saya nggak langsung beli tiketnya karena dari lubuk hati terdalam masih berharap bisa turun harganya. Pas udah mantep mau beli demi menyenangkan belahan diri saya yang suka pesawat, harganya naik jadi Rp15 juta! Langsung uring-uringan beberapa hari lah saya haha kayak bocah.