Sunday, February 14, 2016

Arashiyama Bamboo Grove Milik Sendiri

Mari melanjutkan cerita liburan di Jepang! Kali ini gilarannya si hutan bambu Arashiyama Bamboo Grove.

Setelah puas di Fushimi Inari, tujuan saya berikutnya adalah Arashiyama Bamboo Grove. Dari stasiun Inari, saya naik kereta JR ke Kyoto Station dan nyambung dengan kereta JR lain ke stasiun Saga-Arashiyama.
Arashiyama Bamboo Grove, Kyoto, Japan

Begitu turun kereta di Kyoto Station, saya jalan santai — bahkan sempet potret sana-sini dulu. Nggak lama kemudian saya ngeh kalo kereta ke Saga-Arashiyama jalan dalam 2 menit dan kereta selajutnya baru ada 20 menit kemudian. Berhubung saya inget kalo breakfast gratis di hostel itu cuma sampe jam 10 pagi, saya langsung lari ke peron berikutnya. Nggak lama setelah duduk di kereta, langsung jalan keretanya.

Oh ya, tips supaya nggak bingung nyari peron kereta itu adalah tau kereta yang kamu mau naikin itu nama line-nya apa. Kalo kereta ke Inari itu line-nya JR Nara, sementara ke Saga Arashiyama itu di line JR Sagano. Nanti tinggal cari nama line-nya di papan pengumuman. Kyoto Station itu sibuk banget loh!
Papan jadwal di stasiun JR Kyoto

Saturday, January 9, 2016

Once Upon a Time in Mumbai

Sebenernya saya pengen nulis cerita My Amazing Journey secara berurutan. Tapi jika melihat pace menulis saya yang udah setahun masih belum kelar cerita tentang Eropa, saya memutuskan untuk skip cerita Perancis, Italia, Mesir, dan Dubai supaya bisa cerita peristiwa yang terjadi tepat satu tahun lalu yakni 9 Januari 2015. Seperti biasa, kejadian "unik" macem gini akan saya ceritakan dengan sangat detail. Here goes…

Jumat, 9 Januari 2015
Setelah terbang dengan pesawat jumbo A380-nya Emirates dari Dubai selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya saya mendarat di Mumbai, India sekitar jam 2 dini hari waktu setempat. Saya sengaja pilih pesawat yang mendarat dini hari karena dua alasan, yakni memaksimalkan waktu jalan-jalan di Dubai dan bisa naik A380 lagi setelah 2 tahun sebelumnya naik A380-nya Malaysia Airlines.

Seluruh penerbangan internasional terbang dan mendarat di terminal 2 Chhatrapati Shivaji International Airport. Terminal yang baru beroperasi tahun 2014 ini punya feel modern, megah, dan besar. Karena airport yang besar dan gate pesawat saya yang jauh, saya harus berjalan 10-15 menit sebelum tiba di bagian imigrasi. Saya yang sudah mengisi arrival card di pesawat ternyata harus tetap antri karena waktu itu lagi musim ebola. Jadi sebelum ke imigrasi seluruh penumpang diminta mengisi lembaran bebas ebola. Formalitas banget sih, kayaknya kalo ada yang positif ebola tapi nggak ngaku juga bakal tetep lolos. Setelah ngumpulin kertas tentang ebola itu, baru bisa lanjut ke imigrasi. Btw waktu itu bagian ini chaos banget karena nggak ada yang ngurusin dengan bener, jadi penumpang juga bingung sebenernya perlu ngisi ini atau nggak.
Interior Menuju Imigrasi Terminal 2 Bandara Internasional Mumbai

Berhubung udah urus visa di kedutaan India di Jakarta, saya bisa langsung antri imigrasi. Waktu itu saya nggak merhatiin letak counter visa on arrival, tapi bandara Mumbai ini termasuk salah satu titik masuk yang bisa digunakan pemegang paspor Indonesia untuk mendapatkan visa on arrival. Saya tetep nyaranin untuk buat visa di kedutaan aja sih kalo tinggal di Jakarta dan sekitarnya karena lebih murah (Rp500.000 vs USD 60) dan nggak ribet juga ngurusnya (jadi dalam 2 hari). Imigrasi sendiri berjalan sangat lancar dan dalam kurang dari 2 menit saya udah dapet cap kedatangan di atas visa saya.

Sunday, January 3, 2016

2015: A Year of Accomplishments

Tahun 2015 berakhir 3 hari lalu. Untuk menutup tahun dengan banyak milestone dalam hidup saya tersebut, saya menjadi secret santa tanggal 24 Desember kemarin dengan bagi-bagi tiket serta voucher nginep gratis. Karena terlalu baiknya saya, tanggal 31-nya saya kembali bagi-bagi tiket dan voucher hotel gratis. Well, bagian dari kerjaan sih sebenernya :p Apakah kalian ada yang tau apa yang saya omongin? Ada yang ikutan? Atau bahkan apakah ada yang menang?

Setelah 2 tahun berturut-turun keluyuran saat New Year's Eve, akhirnya saya tahun baruan di rumah. Niatnya mau bikin post retrospective malem itu, tapi tepar banget dan akhirnya memutuskan untuk tidur serta melewatkan pergantian tahun.

For me, 2015 was full of accomplishments — in terms of life, academic, and travel. Sayang nggak ada accomplishments di bagian love.

Sunday, December 27, 2015

10 Best (US) TV Shows of 2015

Tahun 2015 intensitas saya menonton TV show semakin meningkat. Mulai dari kuliah yang cuma 6 SKS, jeda antara sidang dan wisuda, serta masa-masa pengangguran, menyebabkan saya makin sering download TV show. Entah drama, komedi, sampe reality competition, kalo dirasa premisnya menarik bakal saya ikutin.

(Terus bingung mau bikin prolog apalagi)

Yaudah langsung aja! Sesuai judulnya, di post ini saya mau share 10 TV show terbaik di tahun 2015.

HONORABLE MENTION:

Person of Interest = One of the best modern crime series, too bad extremely underrated.
Bates Motel = The chemistry between Vera Farmiga and Freddy Highmore is unbelievable!
Silicon Valley = When I think winning TechCrunch will be a "dead" plot, boy I was wrong!
Sense 8 = 8 cities around the globe on top of 8 strong characters? Count me in!
Impastor = I D I O T! In a hilarious way, though.
Mr. Robot = Fresh breath of air amidst lackluster summer series.

10. HOW TO GET AWAY WITH MURDER

Series-nya Shonda yang tahun ini paling outstanding dibanding Scandal dan Grey's Anatomy. Season 1 series ini keren banget dengan plot twist dimana-mana. Acting Viola Davis juga top notch, nggak heran dia dapet Emmy beberapa bulan lalu untuk outstanding lead actress in a drama series dan jadi first black woman to win the category. Amazing, right? Masih dengan cara penyampaian yang sama dengan season sebelumnya, season ini alurnya maju mundur maju mundur cantik tegang dan bikin penasaran. Plot season utama season ini adalah kasus pembunuhan sepasang suami istri di rumahnya sendiri dengan suspect kedua anak angkatnya.

9. UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT

Bercerita tentang Kimmy Schmidt, seorang yang memutuskan untuk pindah dan tinggal di New York setelah 15 tahun terkurung di dalam bunker bersama 3 wanita lainnya karena dibohongin pendetanya kalo dunia akan kiamat. Di New York dia tinggal bersama roommate-nya bernama Titus yang terobsesi dengan Broadway (p.s.: Titus ini scene stealer banget!). Selain itu dia memiliki pekerjaan sebagai nanny keluarga kaya raya. Saya nonton ini nggak lama setelah marathon 30 Rock, dan emang berasa banget Tina Fey-nya. Btw Tina Fey itu produser, writer, dan lead actress di 30 Rock. Kemudian dia menjadi produser series ini dan sempet jadi guest star juga.


Sunday, December 6, 2015

Quick Jaunt to Pisa


Saya melangkah keluar Pisa Centrale dengan ditemani ransel di pundak. Koper dan travel bag saya titipkan di stasiun supaya nggak ribet saat jalan kaki. Berbekal CityMaps2Go Pro di handphone, saya berjalan menuju Field of Miracle (atau dalam bahasa Italia disebut Piazza dei Miracoli, formerly known as Piazza del Duomo). Sebenernya untuk menuju Field of Miracle kalian bisa naik bis. Biayanya 2 Euro sekali jalan. Tapi karena jaraknya yang cuma 1.5 km-an, banyak yang menyarankan jalan kaki aja supaya bisa lebih menikmati suasana kota Pisa.
Pisa Centrale Train Station

Kota Pisa saat itu sepi banget. Mungkin karena hari Minggu, ditambah masih belum jam 10 pagi pula. Jadi belum banyak kendaraan lalu lalang. Penduduk sekitar juga nggak banyak yang beraktivitas di sekitar stasiun.
Traffic in Pisa